menulis, Pembaca

Klikbait! Berbayakah?

Apakah Kata “HEBOH” dan “TERUNGKAP” sering muncul dinotifikasi smartphone anda? Siap-siap kecewa atau PHP (Pemberi Harapan Palsu) karena isinya berita ataupun artikel tersebut belum tentu semenarik headlinenya. Loh, Kok bisa! Seperti dilansir dari vice.com 16 November 2018, “…Pemilik konten di media daring cuma punya waktu 3 detik untuk menarik minat warganet.”
Di pembahasan kali ini saya akan mengupas dalam dua sudut pandang; pembaca dan penulis serta dampak klikbait.
Upzz! Sebelum lanjut. Alangkah lebih baik renungkan terlebih dahulu apakah artikel ini klikbait atau bukan. Jika menurut anda ini klikbait, saya persilahkan untuk meninggalkan halaman ini. Namun, tidak berdosa pula jika masih berkenan melanjutkan hingga akhir. Eh tunggu sebentar, apa kamu termasuk pemroduksi klikbait itu? Akh! Semoga ini hanya suuzdhonku belaka. Ok! Lanjut.
Pertama, sebagai pembaca. Sebelum memutuskan untuk mengklik berita atau artikel langganan anda, alangkah lebih bijak apabila mulai saat ini matikan notifikasi media daring yang sering membuat klikbait (maksa). Sebab, ada sekitar 43 ribu lebih media daring di Indonesia yang bergerilya menarik perhatian anda. Seperti dikutip dari vice.com bahwa “…Ada 43 ribu lebih media di Indonesia dan hanya 234 yang sesuai dengan syaraat dalam Undang-undang pers…,”
Fantastis. Sebejat itukah penulis Indonesia? Tanyaku dalam hati. Tidak. Mereka tidak bejat. Hanya saja mereka ingin mendapatkan royalti dari apa yang mereka usahakan. Tetapi ingat, kalian telah menciderai serta melukai hati pembaca dengan menyuguhkan konten yang kurang berkualitas. Saya termasuk korban notifikasi media daring yang sering muncul di smartphone. Alih-alih ingin menambah wawasan, malah berakhir dengan kekecewaan mendalam akibat ketidaksesuaian antara judul dengan isi berita maupun artikel. Ingin rasanya membating smartphone recehku saking kecewanya, namun apalah daya. Aku sadar itu bukanlah solusi terbaik.
Bukan hanya sekali dua kali, aku sudah kenyang memakan klikbait. Akibatnya. Aku sering tersedak—karena lupa minum. Ada berita mengejutkan, mengenai tragedi pembunuhan. Saking penasarannya, hanya butuh beberapa detik jariku langsung mengklik notifikasi berita tersebut. Lagi-lagi, kecewa melanda diri. Lalu saya bertanya, akankah kekecewaan ini akan menjadi penyakit menahun yang akan berdampak pada keapatisan dunia literasi. Sungguh menakutkan.
Kedua, sebagai penulis. Menulis bukanlah perkara mudah, butuh proses untuk mencapai tingkat professional. Apakah dengan jalan klikbait? Tidak! Saya tegaskan sekali lagi, TIDAK! Sebab, sedangkan onta tidak akan terperangkap pada lubang yang sama (berarti aku lebih malang dari onta). Saat penulis mengecewakan pembaca, alih-alih mendapatkan like, favorite, atau embel-embel lainnya—malah berakhir dengan sayonara. Bahkan lebih mengerikan, pembaca berkomentar pedas yang berdampak kepada kepribadian anda sebagai penulis.
Jika sudah demikian, apakah penulis masih berpikir, “Masa bodoh! Yang penting dapat royalti.” Men! Jika royalti yang kamu kejar, track recordmu sebagai penulis klikbait akan terekam dalam memori pembaca kritis. “Pembaca kritis hanya sedikit, pembaca kepo, Mah banyak!” begini analoginya. Pembaca itu merupakan kekasih. Bahkan lebih dalam, mereka merupakan ladang subur. Apakah kamu tega mengecoh kekasihmu dan menanduskan lahan suburmu?” menurutmu analoginya kacau? Coba baca ulang bagian paragrap ini.
Apa dampak klikbait bagi pembaca dan penulis?
Pertama, bagi pembaca dampaknya beragam, selain menciderai ekpektasi, klikbait mampu mempengaruhi emosional pembaca. Dan yang lebih mengerikan, pembaca lebih cenderung menyimpulkan secara prematur setelah membaca notifikasi. “Pasti, klikbait!” jika sudah demikian, apa guna menulis berjam-jam sampai menguras tenaga, waktu dan pikiran. Apalagi pembaca yang merasa kecewa dengan unrelevan, cenderung memberikan komentar negatif di bagian komentar.
Kedua, penulis dampaknya tidak kalah main. Selain menurunkan percaya diri, klikbait mampu menurunkan elektabilitas dan kualitasnya sebagai penulis. Sebab tulisan yang baik belum tentu mendapatkan apresiasi yang bagus. Apalagi kontennya mengandung klikbait, jangan salahkan jika komentar pedas berjubel di bawah tulisan anda. Kalau sudah demikian, mau gimana lagi. Ada pepatah mengatakan “Ular penyantap tikus.” Walau hanya sekali ular memangsa tikus, maka setiap tikus tewas atau menghilang tetap ularlah sebagai pemangsa. Padahal, ular bukanlah satu-satunya pemangsa tikus, melainkan manusia, kucing dan makhluk lainnya.
Menurut pengamatan saya sebagai pembaca yang menelan pahit klikbait, ternyata penyakit klikbait mampu mempengaruhi penulis lain untuk melakukan hal yang sama; hamba pageviews. Virus ini sungguh berbahaya, bukan hanya menciderai pembaca, lebih kejamnya menyebar virus yang akan menjadi wabah penyakit baru dalam dunia literasi kita. Jika sudah demikian, siapa yang dirugikan? Penulis itu sendiri. Sebab, elektabilitas dan profesionalismenya sebagai penulis tidak lagi dihargai sama sekali. Alias tamat riwayat. Lihatlah betapa dunia literasi Indonesia semakin terpuruk di angka 60 dari total 61 negara (berdasarkan data UNESCO).
Pesan terakhir kepada pembaca dan penulis, penulis yang baik mereka yang mampu menjadi pembaca yang kritis. Penulis klikbait, kau tidak akan kutenggelamkan. Sebab, kau sendiri akan tenggelam karena ego negatifmu.
Di akhir paragrap ini saya meminta maaf jika tutur kataku kurang sopan dan kurang berkenan di hati pembaca, saya mohon maaf yang sedalam-dalamnya serta memohon ampun kepada Ilahi Robbi.

Referensi dan gambar:
http://www.vice.com

Iklan
Tak Berkategori

Dear Pengangguran

Pengangguran. Ah! Jujur! Mendengarnya saja aku tak sudi. Iya! Aku muak! Tapi mengapa aku menuliskan kata-kata yang memuakkan itu di postingan pertama ini? Alasannya cukup sederhana; karena tidak semua manusia suka hujan.

Loh! Apa hubungannya dengan hujan?

Tidak ada sesuatu apapun di dunia ini yang tidak ada hubungannya, tergantung pada setiap personality yang memandangnya. Pengangguran memiliki kaitan dengan hujan. Hujan sangat pas dengan sifat manusia pengangguran. Kenapa? Ya, karena dengan hujan ada alasan terampuh bagi mereka untuk tidak melakukan aktifitas apapun.

Lalu, apakah di tulisan pertamaku ini akan menghakimi pengangguran Indonesia yang berjumlah 7 juta jiwa (seperti dikutip dari pikiran-rakyat.com, 26 Maret 2018 lalu)?

Oh tidak! Aku ingin memberikan sedikit pandangan agar mereka lepas menjadi tali pengangguran yang mengikat erat.

Caranya?  Yuk simak secara perlahan. Karena menurut data Kemenristek Dikti, 8,8 % (persen) dari penganguran adalah sarjana.

Pertama, Apa hal yang membuat mereka menjadi pengangguran? Coba lihat hasil survey Willis Towers Watson yang dilakukan sejak 2014 hingga 2016. Ada 8 dari 10 perusahaan di Indonesia yang kesulitan mendapatkan lulusan perguruan tinggi dalam negeri (seperti dilansir dari vice.com).

Waw! “Apakah ini prestasi atau tragedi,” kata Mata Najwa di salah satu stasiun televisi. Mbak Nana. Bukan keduanya, tapi ini reality yang harus kita minimalis demi meningkatnya IPM dalam negeri.

Di sisi lain, berbagai pihak saling menyalahkan demi membela diri. Perguruan Tinggi bersikeras mengatakan bahwa mutu pendidikan yang diterapkan untuk mencapai visi dan misi sudah diaktualisasikan sejak dini. Pemerintah pun menyediakan layanan untuk penyerapan tenaga kerja untuk dipekerjakan baik di dalam maupun di dalam negeri. Sedengakan perusahaan di dalam negeri menginginkan karyawan yang memiliki integritas dan kualitas yang sangat tinggi.

Sementara Asosiasi Perguruan Tinggi (Aptisi) di tahun 2017 lalu menuding pemerintah terlalu mudah memberikan izin pendirian perguruan tinggi. Sedangkan pengangguran, semakin merajalela di negeri ini, layaknya jamur yang bersemi setelah hujan mengguyur bumi (seperti dilansir vice.com).

Lalu. Apakah fenomena ini dibiarkan begitu saja tanpa ada lampu merah yang menyuruh mereka untuk berhenti? Sial! Pengangguran memang persoalan purba. Mana mungkin bisa diselesaikan dalam sekejap mata.

Kedua, bagaimana agar mereka mendapatkan pekerjaan yang layak? Nah. Ini harus dikembalikan kepada si penganggur tadi. Contohnya saya, lulus sidang pada bulan Mei 2015 lalu—wisuda 19 September 2015. Setelah lulus sidang dan menyelesaikan revisi, saya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Antara magrib—isya saya mengajar mengaji. Awalnya hanya 5 murid saja—sekarang 27 murid. Di sore hari sekitar jam 17.00 saya memasang jaring ikan di sungai, jam 21.00 dan 06.00 saya melihat jaring apakah ada ikan yang terperangkap. Jika ada akan dijadikan gulai atau lauk, andai berlebih akan saya jual. Selain menambah gizi, bisa juga menambah penghasilan. 1 kilo gram ikan saya jual Rp. 40.000,- (empat puluh ribu rupiah).

Lalu di pagi hari, rutinitas kuperpadat. Kebetulan, ada pabrik kepala sawit berdiri mengapit kampung yang saya tinggali. Abu boiler dan limbahnya saya jadikan pupuk untuk menyuburkan tanah gersang di kampung ini. Saya mulai menggeluti sayur-mayur; kangkung, bayam dan timun.

Alhadulillah! hanya bermodalkan coba-coba dan yakin, akhirnya membuahkan hasil. Rata-rata untuk penghasilan dari menangkap ikan setiap harinya sekitar Rp. 60.000,- sampai Rp. 250.000,- sedangkan penghasilan sayur-mayur setiap harinya bisa menghasilkan Rp. 25.000,- hingga Rp. 50.000,-. Jika dikalkulasikan, selama satu bulan saya bisa menghasilkan uang sebesar Rp. 2.550.000 hingga Rp. 3.000.000,-.

Note: Saya lulusan sarjana pendidikan jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan IPK 3.81. lulus sebagai mahasiswa lulusan terbaik. Mungkin kalian kira saya bergurau? Iya, kan? Sama sekali tidak. Jujur, saya bukan tipe pembohong. Camkan itu! Saudara-saudariku.

Pertanyaannya mungkin lebih mendalam lagi, dan ini sangat sering saya dengar sebelum saya mendapatkan pekerjaan yang layak. Seperti ini bunyinya;

  1. Apakah kamu tidak ingin bekerja di kantor?
  2. Kamu, kan sarjana pendidikan, kenapa tidak mengabdi sebagai guru? Atau yang paling sadis,
  3. Kamu kuliah mati-matian selama 5 tahun, lulus dengan nilai sangat memuaskan, lalu pekerjaan menanam sayur-mayur dan pencari ikan. Apa kamu tidak malu? Yang tidak pernah memakan bangku sekolah saja, bisa.

 

Ok! Aku jawab satu persatu.

  1. Aku ingin bekerja di kantor, sangat ingin. Tetapi saya memiliki point of view yang berbeda mengenai kantor. Bagiku, kantor membutuhkan orang-orang yang professional, memiliki loyalitas yang tinggi dan jujur dalam menjalankan tugas. Saya memiliki itu, tetapi perlu saya tegaskan bahwa sampai saat tulisan ini dipublish status di KTP sudah menjadi Karyawan Honorer. Saya diterima menjadi Pendamping Sosial PKH Kementrian Sosial Republik Indonesia sebelum saya menggunakan toga.
  2. Setelah lulus sidang pada Mei 2018. Saya coba cari informasi dengan teman sejawat yang sudah mengajar terlebih dahulu. Mereka berkata “Biarlah kami yang mengajar dengan memakan gaji, Rp.300.000,-Rp.750.000,- per bulan—kamu jangan!” jujur saya akui. saya bukan termasuk dalam golongan ekonomi menengah ke atas. Jadi saya berpikir lebih baik bersabar sembari mencari informasi bukan menunggu info lowongan pekerjaan.
  3. Selama menghasilkan yang halal dan itu dari keringatku sendiri. Mengapa harus malu? Saya lebih malu jika saya menghasilkan uang dengan tipu-menipu, korupsi dan berjudi. Biarlah aku dianggap kuli, tetapi rejeki yang kudapatkan halal dan diridhoi ilahi robbi. Itu prinsipku hingga saat ini.

  

Ketiga, point ke dua belum relevan dengan kondisi sosial, budaya dan geografis penganggur. Apa yang harus mereka lakukan?

Ini point terakhir, jika belum berhasil menurunkan pengangguran di Indonesia saya mohon maaf. Begini, ada banyak pekerjaan yang bisa kamu lakukan demi menutupi status sosialmu sebagai kaum intelektual, maupun pengangguran dengan pendidikan SMP-SMA sederajat. Sekarang ini sudah banyak program-program pemerintah yang menginginkan kamu sebagai orang yang menempati kedudukan sebagai penganggur. Ambil peluangnya, buktikan jika kamu bisa melakukan di luar zona nyamanmu.

Hilangkan gengsi, buatlah hidupmu berarti. Bukankah hidup hanya sekali, wisdom life itu bisa didapatkan jika kamu memulainya dari sekarang bukan menunggu timing. Nikmati prosesnya, jangan sampai kamu nyaman dengan predikat pengangguran. Itu aib. Sebetul-betul aib.

Coba lihat dirimu di cermin, lalu tanyakan pada dirimu;

  1. Apa sebenarnya tujuanmu?
  2. Apa mimpi dan cita-citamu?
  3. Untuk apa kamu hidup?
  4. Sudah seberapa bermanfaat aku bagi makhluk sekitar?
  5. Apakah aku sampah?

Lalu jawab pertanyaan di atas dan yakin bahwa setiap perjalanan selalu ada asam-manisnya.

Akhir kata. Merdekalah wahai kaum pengangguran! Merdeka! Merdeka! Merdeka!

 

Referensi:

www.pikiran-rakyat.com

www.vice.com

www.ristek.go.id

sumber gambar:

www.merahputih.com